telah berlalu, semua indah yang dulu jadi milikku dihantar angin yang berdesau, melayang bak awan melintasi biru langit yang mulai kelam kala itu lewati padang gersang yang telah lama kehilangan pohon-pohon peneduhnya, direnggut paksa para penjarah, merubah hutan hijau berganti padang utara nan jauh yang tak mampu kugapai dengan kaki telanjangku yang mulai ringkih tempat yang dituju
telah kau bawa semua, ketika itu. tanpa sebait kata sebagai penjelas maksud atas semua yang terjadi. tatapan tanya yang kuhunjam pada manik matamu tak buatmu bergeming, mengisahkan alasan peristiwa yang kurasa pilu.
sedih, meringis hatiku demi melihat jari2mu menorehnya dengan sembilu. seruak air di telaga mataku sedapatnya kubendung. aku takkan menangis di hadapanmu. aku tak menunjukkan sedikitpun rasa padamu.
hilang semua rasa itu. kubiarkan terbang bersama angin. aku tak memiliki apa-apa lagi.
utara…. tempat yang kau pilih, meletakkan semua indah yang kau renggut dariku utara… tempat yang tak kan kupijak, kendati kaki ringkihku telah kuat menapak
pagi pun tertinggal. matahari beranjak meninggalkannya, matahari menjulang, menjangkau biru langit nun di atas.
peluh mengalir di leherku. isu dampak global warming yang sejak dulu aku dengar di tv sekarang mulai terasa di kota ini. seingatku tahun lalu, cuaca tidak sekacau sekarang. panas yang menyengat kendati waktu masih pagi, hujan yang tiba-tiba mengguyur tanpa kabar sebelumnya. hmmm benar2 cuaca sulit diprediksi.
besandar di kursi merahku. kursi yang setiap hari aku duduki untuk bekerja, berkhayal ataupun ngobrol dengan teman2 dari dunia maya sampai dunia nyata.
ada yang menggayuti pikiranku. pukul 11.04 di monitor, hamper 12 jam aku mengucapkan istighfar dalam hati, namun aku merasa masih perlu melafalkannya demi untuk menemukan damai yang kucari.
resah. dia salah menilaiku, akhirnya aku sampai pada kesimpulan itu. awalnya aku tidak berpikir akan menyimpulkan seperti itu. tapi setelah melewati malam yang gelap dan dingin. setelah dia berkali bertanya tentang yang aku inginkan darinya, akhirnya aku berpikir demikian.
hmm, dia salah menilaiku. aku tidak pernah berharap apa-apa darinya. tidak berpikir sesuatu benda atau bentuk. sebuah kebersamaan sudah lebih dari cukup.
aku jadi bertanya, adakah yang lebih berharga dari pada sebuah kebersamaan? aku gamang. tidak ada tempat untuk bertanya. atau kalau ada, aku tidak yakin dia memberikan jawaban yang bisa membuat aku yakin.
matahari semakin jauh. pagi sudah benar-benar berlalu. kalimat istighfar masih dilafaskan lidahku. mana damai yang kucari? aku tidak ingin pikirannya tentang diriku melekat dalam hatinya. dia harus tahu sebuah ketulusan yang menjadi dasar kebersamaan ini. tapi bagaimana aku menyampaikannya tanpa menoreh lembut hatinya.
setelah saling diam dua bulan yang lalu setelah kembali berbicara tiga hari kemarin setelah mempertahankan kebenaran versi masing2 setelah saling mencoba mengalah setelah kemudian bergantian angkuh
adakah saat itu merasa sakit dan terluka...?
setelah semua itu kita kembali merajut benang yang pernah kita tinggalkan dalam keadaan kusut sahabat, maafkan dan kumaafkan pula dirimu.